Vania Purba
55 menit
Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Quarterfull= Bab 6 Jodoh Dari Balik Layar

Quarterfull= Bab 6 Jodoh Dari Balik Layar gambar oleh Vania Purba
Suara detak jarum jam dinding di toko aksesoris terasa berdentang begitu kencang. Eliana menatap layar ponselnya dengan mata berkaca-kaca. Email tanggapan dari panitia penyelenggara program magang ke Australia baru saja masuk, namun ada pesan yang meremukkan harapannya. Siska yang baru masuk membawa dus barang langsung menghentikan langkahnya. "El? Kenapa? Hasil seleksi berkasnya gagal?" Eliana menggeleng pelan, mencoba menahan air mata yang mendesak keluar. "Berkas dan wawancaraku lolos, Sis. Tapi..." "Tapi kenapa?" "Persyaratan administrasinya... harus melampirkan bukti tabungan yang jumlahnya bagiku sangat fantastis sebagai jaminan biaya hidup awal di sana," suara Eliana tercekat. "Uang dari mana, Sis? Tabunganku selama kerja di sini bahkan tidak sampai tiga juta." Siska menghela napas berat, menggenggam jemari sahabatnya. "Gak bisa pinjam dulu?" "Siapa yang mau meminjamkan uang sebesar itu ke orang seperti aku?" jawab Eliana lirih. Mimpinya terasa hancur begitu saja, bukan karena ia kurang pintar atau kurang gigih, melainkan karena tembok bernama biaya. Malam harinya, di dalam penthouse mewahnya, Sean menyandarkan punggung ke sofa, rasa bosan saat di pesta itu membuatnya pulang lebih awal membiarkan mamanya pulang dengan supir. Ia melirik ponsel yang sejak sore tadi sepi tanpa notifikasi. Biasanya jam segini Eliana sudah mengirim pesan penuh semangat. Didorong rasa cemas, Sean mengetik pesan duluan. [Sean]: Eliana, bagaimana hasil seleksimu hari ini? Membutuhkan waktu hampir setengah jam sampai balasan pesan itu akhirnya muncul. Eliana yang sedang melayani pembeli mengabaikan notifikasi yang masuk ke ponselnya. "Ada apa dengan Eliana? biasanya dia cepat membalas pesan. Apakah dia masih sibuk di toko?" gumam Sean yang menunggu balasan dari Eliana. Lalu ia menepuk jidatnya, mengingat jarak waktu mereka yang berbeda. "Astaga, aku baru sadar. Waktu Indonesia sekarang masih jam sibuknya Eliana." Eliana yang sudah tidak sibuk tersenyum membaca pesan dari Sean. Dengan cepat jarinya membalas pesan itu. [Eliana]: Hasil wawancara dan tes bahasaku lolos, Mr. S. Tapi aku tidak bisa lanjut ke tahap berikutnya. [Sean]: Kenapa? Ada kendala apa? [Eliana]: Ada syarat bukti rekening tabungan minimal yang harus diserahkan minggu ini. Uang tabunganku sama sekali tidak cukup. Jadi... langkahku harus berhenti di sini. Sean membaca pesan itu dengan kening berkerut. Baginya, uang dalam jumlah besar adalah angka yang biasa saja, namun bagi Eliana, angka itu adalah benteng raksasa yang menghentikan mimpinya. [Sean]: Apakah tidak ada opsi pinjaman resmi atau bantuan dari program tersebut? [Eliana]: Tidak ada, Mr. S. Ini memang syarat mutlak. Sepertinya aku memang belum rezeki ke sana tahun ini. Sean menatap kalimat pasrah itu. Hatinya ikut terasa sesak. Keinginan untuk langsung mentransfer uang ke rekening Eliana sempat melintas di kepalanya. Namun, Sean tahu betul karakter Eliana—gadis itu punya harga diri yang tinggi dan tidak akan mau menerima uang cuma-cuma dari orang asing di chatting. [Sean]: Jangan berkecil hati dulu. Masih ada waktu beberapa hari sebelum tenggat penutupan, kan? Jangan menyerah sebelum semuanya benar-benar selesai. [Eliana]: Terima kasih ya, Mr. S. Maaf kalau aku lama balas pesanmu, tadi ramai pembeli. Aku mau istirahat sebentar. Sean menatap layar ponselnya yang meredup dengan pikiran yang berputar keras. Untuk pertama kalinya, pria dingin yang tak pernah peduli pada urusan orang lain itu merasa tergerak untuk mencari cara membantu seorang gadis meraih mimpinya.
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

0 Komentar