Imas Laelasari
2 jam . diperbarui 2 jam
Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Misi Angkot Terakhir Dan Hujan Badai

Misi Angkot Terakhir Dan Hujan Badai gambar oleh Imas Laelasari
Langit di atas SMA Negeri mendadak berubah sekelam abu-abu monyet warna celana seragam mereka. Jarum jam sudah menunjuk ke angka empat sore lewat sedikit ketika Zahra, Syifa, Fia, Tiara, dan Chandra melangkah keluar dari gerbang sekolah. Sialnya, begitu mereka sampai di persimpangan jalan, sebuah angkutan kota berwarna hijau melesat pergi begitu saja, meninggalkan kepulan asap knalpot yang pekat. "Yah! Angkot gratis Pak Udin udah lewat!" pekik Syifa dramatis sambil menatap jalanan yang mulai basah oleh tetesan gerimis. Pak Udin adalah sopir angkot baik hati tetangga dekat rumah Zahra yang selalu memberikan tumpangan gratis jika mereka pulang tepat waktu. Tiara langsung menunduk dengan wajah penuh rasa bersalah. Ia meremas tali tas ranselnya yang terasa berat penuh buku. "Maaf ya, gara-gara nemenin aku nyari buku kisi-kisi UTBK lama banget di perpustakaan, kita jadi ketinggalan angkot," bisik Tiara lirih, matanya mulai berkaca-kaca karena cemas. Zahra yang melihat itu segera merangkul pundak Tiara erat-erat, memberikan ketenangan khas seorang kakak. "Hei, jangan minta maaf, Ra. Kan dari awal kita sudah sepakat mau maju bareng-bareng ke PTN. Ke perpustakaan itu urusan kita bersama, bukan cuma urusan kamu," kata Zahra lembut, yang langsung diangguki mantap oleh Fia. "Betul itu! Lagian kalau kita nggak ketinggalan angkot, kita nggak bakal tahu isi dompet kita sekarang serempak kritis," sahut Fia sambil memamerkan selembar uang dua ribu rupiah lecek dan beberapa koin seratus perak dari kantongnya. Mereka pun tertawa kecut saat menyejajarkan sisa uang saku masing-masing. Jika di total, uang mereka bahkan tidak cukup untuk ongkos angkot reguler untuk dua orang, apalagi berlima. Satu-satunya harapan transportasi yang mereka miliki adalah sepeda motor bebek tua milik Chandra, sebuah motor legendaris keluaran tahun 90-an yang joknya sudah dilakban hitam di sana-sini. Namun, seolah ingin menguji kadar kesabaran mereka, saat Chandra menggenjot pedal kick starter-nya berkali-kali, motor itu hanya mengeluarkan suara batuk kering lalu mati total. Busi motor tua itu tampaknya sudah menyerah terkena rembesan air hujan yang perlahan berubah menjadi lebat. "Wah, fiks mogok! Selamat, kita resmi terdampar!" seru Chandra pasrah, sambil menyeka peluh di dahinya yang bercampur air hujan. Melihat hujan badai yang tiba-tiba turun dengan sangat deras disertai angin kencang, mereka tidak punya pilihan selain berteduh. Chandra dan Fia bahu-membahu mendorong motor tua yang mogok itu menuju sebuah warung emperan pinggir jalan yang sudah tutup. Mereka berlima berhimpitan di bawah kanvas peneduh warung yang bocor di beberapa titik, mencoba menyelamatkan tas-tas mereka yang berisi buku berharga dari amukan air hujan. Udara sore itu mendadak berubah menjadi sangat dingin, membuat seragam putih abu-abu mereka yang lembab mulai menerbitkan rasa menggigil. Namun, alih-alih meratapi nasib atau saling menyalahkan, kebersamaan di ruang sempit itu justru memicu kehangatan. Chandra yang selalu membawa gitar usangnya di dalam tas kain kedap air langsung mengeluarkan alat musik tersebut. "Daripada kita kedinginan kayak ayam sayur, mending kita konser gratis!" seloroh Chandra seraya mulai memetik senar gitarnya yang untungnya bernada pas. Chandra mulai memainkan intro lagu pop yang sedang viral, dan Syifa si ratu heboh langsung menyambar baris pertama dengan suara yang sengaja dilebih-lebihkan. Fia ikut mengetuk-ngetukan botol minum kosongnya ke tiang bambu warung sebagai perkusi dadakan, sementara Zahra dan Tiara bernyanyi bersama mengimbangi suara Chandra. Di tengah badai, mereka tahu bahwa selama mereka masih bisa bernyanyi bersama, tidak ada jalan pulang yang terlalu jauh atau terlalu sulit untuk dilewati. Suara tawa dan nyanyian kelima sahabat itu bersahut-sahut, mengalahkan gemuruh guntur dan derasnya hujan badai yang menghantam jalanan di depan mereka. Bagi orang lain yang lewat, mereka mungkin terlihat menyedihkan, lima remaja dengan motor mogok dan kantong bolong yang terjebak di emperan toko. Namun, bagi mereka berlima, keterbatasan sore itu justru menjadi panggung terbaik untuk merayakan arti solidaritas yang sesungguhnya. Tepat saat Chandra memetik akor terakhir, petir menyambar menggelegar di langit, disusul suara decitan ban yang memekakkan telinga. Dari balik tirai hujan deras di depan warung, mereka melihat sebuah mobil sedan hitam mewah kehilangan kendali, berputar, dan menabrak tiang listrik di seberang jalan dengan benturan yang sangat keras. Suasana mendadak hening. Asap mengepul dari kap mobil yang ringsek. Tak lama, pintu kemudi terbuka lambat. Seorang cowok dengan seragam sekolah yang sama dengan mereka, tapi dipenuhi noda darah di bagian pelipis, merangkak keluar lalu ambruk telentang di atas aspal yang basah. Syifa langsung menutup mulutnya, matanya membelalak horor. "Eh ... itu ... itu bukan Kak Reno si kapten basket yang punya surat cinta di lemper tadi?" Chandra langsung menjatuhkan gitarnya ke lantai semen, wajahnya mendadak pucat pasi menatap jam tangan karetnya. "Gawat," bisik Chandra dengan suara bergetar. "Bukan cuma dia pingsan di tengah badai, tapi kalian sadar nggak? HP kita semua mati, motor gue mogok, dan nggak ada satu pun orang lewat di sini!" Zahra melangkah maju ke batas tempias hujan, menatap tajam ke seberang jalan lalu berbalik menatap keempat sahabatnya dengan nafas memburu. "Nggak ada waktu buat panik. Chandra, Fia, ikut aku seberang jalan sekarang! Syifa, Tiara, kalian tetap di sini, jaga tas!" "Tapi Ra!" potong Tiara dengan suara ketakutan. "Kita mau bawa dia pakai apa? Uang kita habis, dan motor Chandra mati total!" Zahra menatap motor bebek tua di sudut warung, lalu menatap lurus ke mata teman-temannya. "Kita nggak punya pilihan," tegas Zahra, menyeka air hujan yang mulai membasahi wajahnya. "Chandra, pasang businya lagi sekarang. Mau nggak mau, motor tua lo harus hidup dalam hitungan detik, atau nyawa Kak Reno nggak bakal tertolong!”
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

5 Komentar