Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Luka Dan Kepedulian

Luka Dan Kepedulian gambar oleh Ratna Dewi
Episode 8: Luka Dan Kepedulian Keesokan harinya, kegiatan panitia bakti sosial berlanjut di aula utama. Aisyah berdiri di meja pendaftaran sembari sesekali melirik ke arah sudut ruangan. Rayhan sedang mengetik laporan di laptopnya, tetapi gerakan tangan kirinya tampak kaku dan sedikit lambat. Aisyah mengambil kotak pertolongan pertama dari lemari penyimpanan, lalu menyiapkan satu botol obat antiseptik dan kassa steril. Ia mendatangi meja Rayhan dengan langkah pelan. "Assalamu’alaikum, Mas Rayhan," sapa Aisyah santun. Rayhan mendongak, langsung memalingkan pandangannya ke samping. "Wa’alaikumussalam warahmatullah. Iya, Mbak Aisyah?" Aisyah meletakkan kotak P3K beserta segelas air hangat di ujung meja Rayhan. "Kemarin saya lihat tangan Mas Rayhan tergores lumayan panjang saat menahan kayu terpal. Sepertinya lukanya belum diobati dengan benar." Rayhan tertegun sebentar. Ia melirik goresan merah di lengan kirinya yang memang mulai memar. " Masya Allah... Mbak Aisyah tidak perlu repot-repot. Ini luka kecil, nanti juga sembuh sendiri." "Luka terbuka bisa infeksi kalau kena debu panti, Mas," sahut Aisyah tegas namun lembut. "Tolong dibersihkan dulu. Di kotak ini sudah ada alkohol dan plester." "Terima kasih banyak, Mbak Aisyah. Perhatian Mbak sangat berarti," tutur Rayhan lirih. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya, membuat suasana mendadak hening. Pipi Aisyah merona merah. Ia segera menundukkan kepala dalam-dalam untuk menyembunyikan rasa canggung. "S-sama-sama, Mas. Saya hanya menjalankan tugas sebagai bagian dari tim medis panitia." "Tentu, Mbak. Terima kasih sekali lagi," pangkas Rayhan cepat, menyadari ucapannya tadi mungkin membuat Aisyah tidak nyaman. Aisyah segera memutar badan dan kembali ke meja pendaftaran dengan detak jantung yang bergemuruh. Di sudut ruangan, Rayhan meraih obat pembersih luka itu sembari memenjarakan getar di dadanya. Perhatian kecil dari Aisyah makin menguatkan rasa kagum yang terus ia selipkan dalam lembar-lembar doanya di sepertiga malam.
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

7 Komentar