Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Kali Ini, Toba Benar-benar Diamuk Kecewa. Ia Betul-betul Emosi Pada Anaknya.

Sumpah serapah keluar dari mulutnya. Ia menghardik Samosir sebagai anak yang tidak tahu diri dan tidak tahu diuntung. Amarahnya membuat Toba kelewat melontarkan umpatan pada Samosir. “Dasar anak ikan!” begitu teriaknya pada Samosir. Samosir pun kaget. Toba makin memperjelas ucapannya bahwa Samosir memang anak dari perempuan yang dulunya seekor ikan. Rasa jengkel, kesal, dan luapan emosi Toba membuatnya tak sadar bahwa dia sudah mengingkari janjinya pada sang istri. “Dasar anak ikan!” begitu teriaknya pada Samosir. Sang Putri Kecewa dan Sedih Mendapati kenyataan seperti itu dari ayahnya, Samosir buru-buru pulang. Diiringi tangis dan kesedihan ia cepat-cepat lari menuju rumahnya. Setibanya di rumah, ibunya pun kaget mendapati anaknya menangis. Samosir langsung memeluk sang ibu dan mengadukan perkataan ayahnya. Betapa kaget dan sedihnya sang ibu melihat perasaan anaknya terluka oleh perkataan ayahnya sendiri. Ditambah perkataan Toba pada sang anak juga melukai hatinya sebagai istri. Toba telah mengingkari janjinya sebelum menjadikannya istri yakni mengungkap asal-usulnya dari seekor ikan. Dalam rasa marah, sedih, dan kecewa, ia pergi bersama sang anak dari rumah. Toba telah mengingkari janjinya sebelum menjadikannya istri yakni mengungkap asal-usulnya dari seekor ikan. Toba yang menyadari ucapannya bergegas pulang dari ladang menuju rumahnya. Namun ia terlambat, sang istri dan anaknya sudah tidak ada di rumah. Saat itu, langit pun diliputi awan gelap. Gemuruh terdengar dari seluruh penjuru. Seakan alam ikut marah karena Toba mengingkari janjinya. Ia berlari tanpa arah. Ke sana-sini ia berusaha mencari istri dan anaknya. Air Menyelimuti Seluruh Desa Toba tak berhasil mendapati istri dan anaknya. Keduanya menghilang tanpa jejak. Sementara itu, sang putri yang pergi bersama Samosir, sang anak, sudah mengetahui akan terjadi bencana besar seketika itu juga. Dari langkah-langkah kakinya di tanah yang dipijak, perlahan-lahan keluar air terus-menerus. Sambil terus pergi menjauh, ia berusaha menyelamatkan sang anak. Ia menyuruh Samosir untuk pergi ke daratan paling tinggi di desa itu. Keduanya berpisah dalam rasa sedih yang teramat dalam.
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

2 Komentar