Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
Judulnya: *Lelaki Yang Tetap Berangkat*
Jam 4 pagi. Alarm Rian belum bunyi, tapi matanya sudah terbuka sendiri. Sudah 5 tahun begitu. Di kamar kontrakan 3x4 di belakang pasar Krukut, ia menatap langit-langit yang bocornya sudah ditambal pakai ember plastik. Istrinya masih tidur, memeluk anak mereka yang berusia 3 tahun. Napas anak itu berat karena batuk yang belum sembuh. Rian bangun pelan. Ia tidak ingin membangunkan mereka. Di dapur, ia hitung uang. Rp 37.000. Itu sisa dari kemarin narik ojek sampai jam 11 malam. Hari ini harus cukup untuk: Beras, obat batuk anak, dan bensin. Ia pakai jaket ojeknya yang sudah sobek di sikut. Motornya motor tahun 2012, yang kalau hujan harus diengkol 10 kali baru nyala. Di luar masih gelap. Dingin. Hari pertama ia jadi ojek, ia malu. Teman-teman kuliahnya sudah jadi staff kantor, pakai kemeja. Dia cuma lulusan SMA yang gagal merantau. Tapi hari ke-100, rasa malunya hilang. Berganti rasa lapar yang harus ia lawan. Pagi itu sepi orderan. Sampai jam 10, baru dapat 1. Rp 12.000. Siang, hujan deras. Jakarta banjir di mana-mana. Aplikasi sepi. Ia berteduh di bawah flyover, sambil lihat foto anaknya di HP retak. Ia mau nangis. Sudah 100 hari ini ia tidak bisa cerita keluh kesahnya ke Bapaknya. Bapaknya baru meninggal. Dulu kalau capek, ia tinggal telepon: "Pak, aku capek." Bapaknya cuma jawab: "Pulang aja kalau capek, Nak." Sekarang tidak ada lagi yang bisa ditelepon. Jam 2 siang, masuk orderan. Antar makanan, jarak 9 KM, lewat banjir. Rian ambil. Motornya mogok di tengah banjir. Makanan pelanggan basah. Pelanggan marah-marah. Kasih bintang 1. Rian cuma bilang: "Maaf ya kak." Ia dorong motornya 2 kilometer. Kaus kaki basah, dompet basah, tapi uang Rp 37.000 tadi masih ia genggam erat di saku plastik. Jam 5 sore, ia dapat orderan terakhir. Seorang ibu tua mau ke rumah sakit jenguk suaminya. Di jalan, ibu itu cerita: "Suami saya sudah 40 hari di rumah sakit, Nak. Saya sudah capek." Rian spontan jawab: "Gak apa-apa Bu, capek itu tandanya Ibu sayang." Ibu itu turun, bayar lebih. Rp 50.000 untuk orderan Rp 18.000. "Buat anakmu beli obat ya." Rian bengong. Nangis di atas motor. Malam itu ia pulang bawa obat batuk, beras 2 liter, dan sisa uang Rp 28.000. Anaknya sudah tidur. Istrinya menyambut di pintu, "Dapat berapa hari ini?" Rian senyum, "Cukup." Dia tidak cerita motor mogoknya. Tidak cerita dimarahin pelanggan. Tidak cerita ia dorong motor 2 kilometer. Karena ia sudah belajar: *Perjuangan hidup itu bukan tentang seberapa keras kamu jatuh. Tapi tentang tetap berangkat, bahkan ketika tidak ada lagi tempat untuk berkeluh kesah.* Dan besok jam 4 pagi, alarmnya belum bunyi pun, ia akan tetap bangun lagi.