Dina Azkia
19 jam
Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.

Di Umur 12 Tahun Aku Dipenjara Di Kamarku Sendiri, Tapi Dari Penjara Itulah Aku

Di Umur 12 Tahun Aku Dipenjara Di Kamarku Sendiri, Tapi Dari Penjara Itulah Aku gambar oleh Dina Azkia
Membebaskan Jutaan Perempuan Indonesia Tidak ada yang tahu, Raden Ajeng Kartini tidak pernah ingin menjadi pahlawan. Ia hanya ingin sekolah. Di usianya yang ke-12, tepat ketika anak perempuan lain di Belanda mulai bermimpi jadi dokter, Kartini justru dipingit. Dikurung. Disuruh diam di dalam kamar, menunggu dilamar. Bayangkan, Dola. Seorang gadis cerdas yang fasih menulis Belanda, yang rakus membaca buku, tiba-tiba disuruh melupakan semua mimpinya dan belajar "bagaimana menjadi istri yang penurut". Kamar itu menjadi penjaranya. Dindingnya adalah adat. Kuncinya adalah tradisi. Tapi di dalam penjara itulah keajaiban terjadi. Alih-alih menyerah, Kartini menyalakan lampu kecil setiap malam. Ia menulis. Menulis. Dan menulis. Ia menulis surat untuk sahabatnya di Belanda, Stella. Isinya bukan keluhan. Isinya adalah kemarahan yang indah: "Adakah yang lebih menyedihkan daripada seorang perempuan yang dipaksa membunuh jiwanya sendiri demi adat?" Ia tidak berteriak di jalan. Ia tidak mengangkat senjata seperti Cut Nyak Dhien. Senjatanya adalah tinta. Dari balik dinding pingitan, ia mendirikan sekolah kecil di kamarnya. Ia ajari adik-adiknya dan gadis-gadis desa membaca, menulis, menjahit sesuatu yang dianggap tabu. Ia tahu, ia mungkin tidak akan pernah bebas. Tapi ia ingin, setidaknya, adik-adiknya kelak bebas. Lalu takdir yang paling menyakitkan datang. Ia dijodohkan dengan Bupati Rembang, seorang pria yang sudah beristri tiga. Kartini menangis. Bukan karena ia benci, tapi karena ia tahu, pernikahan itu adalah akhir dari kebebasannya. Ia setuju dengan satu syarat: Suaminya harus mengizinkan ia membuka sekolah untuk perempuan pribumi. Dan ia menepati janji itu. 4 bulan setelah melahirkan anak pertamanya, dalam usia 25 tahun, Kartini wafat. Muda sekali. Orang-orang mengira ceritanya selesai di sana. Padahal, ceritanya baru dimulai. Surat-suratnya yang ia tulis dari dalam penjara kamar itu dikumpulkan sahabatnya menjadi buku: "Habis Gelap Terbitlah Terang". Buku itu meledak. Mengguncang Hindia Belanda. Dan dari buku itulah, jutaan perempuan Indonesia akhirnya berani bermimpi. Jadi kalau hari ini kamu, perempuan yang sedang membaca ini, bisa sekolah, bisa kerja, bisa memilih siapa yang kamu nikahi... Itu bukan hadiah. Itu adalah warisan dari seorang gadis 12 tahun yang berani menyalakan lampu di dalam penjaranya sendiri. *Jangan sia-siakan cahayanya.* Bagaimana pendapat kalian jika Kartini masih ada? Apakah dia akan kecewa kepada wanita-wanita zaman sekarang? Silahkan komen 🥰🙏
Advertisement Advertisement
Menu Post
Laporkan Konten
Bagikan Posting Ini
Ikuti Pengguna

Blokir Pengguna

Hapus Postingan

Apakah Anda yakin ingin menghapus postingan ini? Tindakan ini tidak dapat dibatalkan.

5 Komentar