Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
3-Sepanjang Perjalanan Pulang, Toba Kegirangan. Ia Membayangkan Betapa
Nikmatnya Santapannya Hari Itu. Seekor Ikan Besar Siap Diolah Menjadi Makanan Yang Lezat. Setibanya di rumah, Toba bergegas untuk siap-siap memasak. Ia menyimpan ikan tangkapannya baik-baik di dapur sementara dia mempersiapkan hal lainnya. Namun betapa terkejutnya Toba, ketika ia kembali ke dapur, ikannya sudah tidak ada. Lebih mengejutkan lagi ketika ada sosok seorang perempuan yang begitu menawan. Perempuan itu berterima kasih pada Toba. Masih terkejut, Toba berusaha bertanya siapa perempuan itu dan mengapa ia ada di rumahnya. Perempuan itu mengaku bahwa dirinya adalah seorang putri yang dikutuk dewa menjadi seekor ikan yang diselamatkan dari sungai oleh Toba. Sang putri merasa berhutang budi pada Toba. Sebagai wujud rasa terima kasihnya, sang putri bersedia menjadi istri Toba. Namun ada satu syarat bagi Toba sebelum menjadikannya istri, yaitu merahasiakan asal-usul sang putri dari seekor ikan. Toba tidak keberatan. Lantas keduanya pun menjadi sepasang suami istri. *** Waktu berjalan dan sepasang suami istri ini akhirnya dikaruniai seorang anak laki-laki. Anak itu diberi nama Samosir. Samosir menjadi kebanggaan sang ayah terutama sang ibu yang sangat mencintainya. Namun berbeda dengan sang ayah yang amat rajin dan giat bekerja, Samosir tumbuh menjadi anak pembangkang. Tak jarang kedua orang tuanya dibuat pusing karena tingkah lakunya. Bukan cuma itu, konon nafsu makannya pun juga luar biasa besar. Bahkan sang ayah harus semakin giat berladang demi mencukupi kebutuhan makan anaknya yang luar biasa besar. Sayangnya, Samosir enggan membantu atau bahkan sekadar menemani ayahnya berladang. Namun berbeda dengan sang ayah yang amat rajin dan giat Saking besarnya cinta Toba pada anaknya, ia sama sekali tak pernah mengeluh. Toba tetaplah seorang pekerja keras yang giat dan rajin. Setiap hari ia pergi ke ladang seharian demi membahagiakan keluarga kecilnya. *** Suatu hari, Samosir diminta bantuan oleh ibunya. Di tengah hari yang terik, sang ibu meminta tolong pada Samosir untuk mengantar makan siang ayahnya ke ladang. Tentu saja Samosir tak langsung menurutinya. Sambil bersungut-sungut, ia terpaksa mengiyakan permintaan ibunya. Sepanjang jalan ia tak berhenti mengeluh. Sambil bermalas-malasan dan berlama-lama di jalan, Samosir merasa kelaparan. Ia membayangkan terus masakan ibunya yang nikmat. Apalagi makanan yang ada di tangannya itu. Dari aromanya saja ia sudah bisa membayangkan kenikmatannya. Bukannya lekas-lekas diantar ke ayahnya, Samosir malah bolak-balik mengintip bekal makan siang ayahnya. Sampai akhirnya ia tergoda untuk memakannya. Pikirnya, sedikit saja ia makan pasti ayahnya tidak tahu. Tapi rupanya mencicipinya satu kali tidaklah cukup. Dengan tetap berlambat-lambat, ia kelaparan lagi di perjalanan. Samosir kembali memakan sebagian bekal makan siang sang ayah. Kejadian ini pun terjadi berkali-kali hingga ia tiba di ladang bertemu ayahnya. *** Toba lekas-lekas berhenti dari kegiatannya di ladang. Buru-buru ia menghampiri anaknya yang membawa makan siang. Namun betapa terkejutnya Toba ketika membuka bungkusan makan siangnya. Bungkusan itu kosong dan tak nampak sesuap pun nasi untuk ia makan. Rasa lapar di tengah siang yang terik ditambah lelah setelah berladang dari pagi membuat Toba marah. Ia menghardik Samosir dengan mempertanyakan kemana makanan untuknya. Samosir mengaku bahwa dirinya tak kuasa menahan lapar di jalan. Aroma masakan ibunya yang begitu nikmat membuat ia ingin memakannya. Tanpa rasa bersalah dari kata-kata dan raut wajahnya, Samosir membuat ayahnya semakin mara