Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
3. Legenda Watu Maladong Dari Nusa Tenggara Timur
Alkisah ada seorang petani yang tinggal sendirian di Pulau Sumba. Ia rajin merawat kebunnya hingga sehat nan subur. Betapa kagetnya petani saat suatu pagi menemukan kebun kesayangannya porak-poranda. Setelah ditelusuri, ia menemukan jejak babi hutan, meski rasanya tak mungkin karena kebun miliknya dikelilingi pagar yang tinggi. Rasa penasaran dan kesal membuat petani memutuskan mengintai kebunnya untuk menangkap basah pelaku perusak. Tak lupa ia membawa tombak sakti pemberian turun-temurun dari leluhur, Numbu Ranggata. Tanpa sang petani tahu, tombak ini bisa memecah langit menjadi petir yang akan menyerang lawan sang pemilik. Namun di tangannya, tombak itu hanyalah sebilah senjata runcing biasa. Hari semakin malam, setelah lama menunggu akhirnya ia memergoki kawanan babi hutan yang menyerang kebunnya. Benar saja, tak seperti babi hutan biasa yang akan putar balik saat melihat pagar, jenis satu ini malah melompati pagar dengan mudahnya. Kaget sekaligus panik, petani langsung melempar tombak ke seekor babi hutan yang berjarak paling dekat dari tempat persembunyiannya hingga menancap di bagian perut sebelah kanan. Babi hutan itu mengerang kesakitan dan kabur dengan begitu cepat sekaligus membuat kawanannya kaget. Petani merasa percuma mengejar babi hutan itu di malam hari, tapi ia harus mendapatkan tombaknya kembali agar tidak terkena kutukan leluhur. Saat matahari mulai terbit, petani segera mengikuti jejak kaki dan darah babi hutan yang kabur bersama tombak warisannya.