Laporkan konten ini jika melanggar ketentuan, mengandung materi sensitif, atau hak cipta.
20. Cerita Rakyat Sumatera Utara Legenda Putri Hijau
Berdasarkan buku Koleksi Terbaik Cerita Rakyat Nusantara, Cerdas Interaktif karya Putri Khumairah (2017) berikut dongeng rakyat Sumatera Utara: Zaman dahulu di Kesultanan Timur Besar, kira-kira 10 km dari Kampung Medan, ada seorang putri yang sangat cantik bernama Putri Hijau. Kecantikan putri ini tersohor mulai dari Aceh sampai ke ujung utara Pulau Jawa. Sultan Aceh jatuh cinta pada Putri Hijau dan ingin melamarnya untuk dijadikan permaisuri. Namun, lamaran Sultan Aceh itu ditolak oleh kedua saudara laki-laki Putri Hijau sehingga membuat Sultan Aceh sangat marah. Penolakan itu dianggapnya sebagai penghinaan terhadap dirinya. Kemudian Kesultanan Aceh pun memerangi Kesultanan Deli yang waktu itu dipimpin oleh saudara tua Putri, bernama Mambang Yazid. Dengan menggunakan kekuatan gaib, Mambang Yazid menjelma menjadi seekor ular naga dan Mambang Hayali berubah menjadi sepucuk meriam yang tidak henti-hentinya menembak tentara Aceh hingga akhir hayatnya. Kesultanan Deli mengalami kekalahan. Akibat kecewa karena kalah, Putra Mahkota yang menjelma menjadi meriam itu meledak sebagian. Bagian belakangnya terlontar ke Labuhan Deli dan bagian depannya ke Dataran Tinggi Karo. Putri Hijau ditawan dan dimasukkan dalam sebuah peti kaca yang dimuat ke dalam kapal untuk seterusnya dibawa ke Aceh melalui Selat Malaka. Ketika kapal sampai di Ujung Jambo Aye, Putri Hijau memohon diadakan satu upacara untuknya sebelum peti diturunkan dari kapal. Permintaannya ialah harus menyerahkan padanya sejumlah beras dan beribu-ribu telur. Permintaan Putri dikabulkan dan upacara pun dilaksanakan. Akan tetapi, baru saja upacara dimulai, tiba-tiba berhembuslah angin ribut yang maha dahsyat dan disusul gelombang laut yang sangat tinggi. Dari dalam laut, muncullah abangnya yang telah menjelma menjadi ular naga. Dengan menggunakan rahangnya yang besar diambilnya peti tempat adiknya dikurung, lalu dibawanya masuk ke dalam laut. 21. Dongeng legenda dari Kalimantan Barat Asal Usul Burung Ruai Cerita Asal Usul Burung Ruai merupakan salah satu kisah menarik yang diterbitkan oleh warisan budaya kemdikbud pada tahun 2011. Cerita rakyat tentang asal usul Burung Ruai sangat terkenal di kalangan masyarakat Melayu yang ada di Kecamatan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat. Dongeng ini telah menjadi bagian dari budaya daerah tersebut dan diabadikan melalui lagu-lagu rakyat yang berkembang di wilayah tersebut. Kisah ini dimulai dengan sosok seorang raja yang bijaksana dan memiliki tujuh orang puteri yang cantik. Di antara ketujuh puteri, Si Bungsu adalah yang paling cantik dan memiliki budi pekerti yang baik serta taat pada orang tua. Keenam kakak Si Bungsu memiliki budi pekerti yang buruk, sering iri hati, membantah orang tua, dan malas bekerja. Karena kebaikan dan kejujuran Si Bungsu, sang ayah sangat menyayangi dan mengasihi puteri bungsu tersebut, sementara keenam kakaknya merasa iri dan marah. Suatu hari, sang raja harus meninggalkan kerajaan dan menyerahkan kekuasaan kepada Si Bungsu. Hal ini memicu rencana jahat keenam kakaknya untuk mencelakai Si Bungsu dengan meninggalkannya di dalam gua batu. Terperangkap dalam gua selama tujuh hari tujuh malam, Si Bungsu menangis dan meratapi nasibnya. Namun, bantuan tiba dalam bentuk seorang kakek tua yang sakti. Si Kakek memberi pertolongan kepada Si Bungsu dan mengubahnya menjadi burung yang indah dengan bulu-bulu yang menakjubkan. Si Bungsu kemudian diubah menjadi seekor burung yang diberi nama Burung Ruai. Si Kakek memberikan tugas pada Burung Ruai untuk mengerami telur-telur yang dihasilkan dari air mata Si Bungsu. Telur-telur tersebut kemudian menetas menjadi burung-burung baru, dan Burung Ruai menjadi teman bagi mereka. Keberadaan burung-burung Ruai kemudian beterbangan hingga ke istana kerajaan. Setelah peristiwa itu, gua tempat Si Bungsu diubah menjadi burung dinamakan Gunung Ruai. Cerita ini mengandung pesan tentang kebaikan hati, kejujuran, dan akibat buruk dari iri hati dan kejahatan. Burung Ruai menjadi simbol keindahan, kebaikan, dan harapan di kalangan masyarakat setempat.